TEKNOLOGI DALAM SEPAK BOLA

Masih ingatkah Anda pada pertandingan di F.A Cup semifinal antara Chelsea dan Tottenham Hotspur yang berakhir dengan skor 2 – 0 untuk kemenangan Chelsea, dan salah satu goal yang ditorehkan adalah hasil dari ‘goal hantu’ hasil tendangan Juan Mata? Apabila Anda termasuk pemerhati bola atau fans dari salah satu team tersebut, pasti mengetahui kejadian pada waktu itu.Wasit adalah manusia juga adalah salah satu jawaban utama ketika seorang wasit harus diposisikan untuk bertanggung jawab atas suatu hal yang dianggap tidak fair di atas lapangan hijau. Walaupun telah dibantu oleh dua orang asisten wasit di pinggir lapangan, namun mata manusia kerap tidak dapat membuktikan dan mengikuti secara real-live kemana arah bola.Untuk dunia sepakbola, memang belum terdapat teknologi khusus yang mengawasi bola yang ditendang telah melewati garis gawang atau belum. Namun, teknologi pengamatan garis tersebut telah dipakai oleh jenis olahraga lain yaitu Tennis. Teknologi ini dinamakan Hawk Eye system.Agar tidak lagi terjadi ‘goal hantu’, maka dimulai dari pertandingan antara timnas Inggris dan Belgia yang akan dilangsungkan pada tanggal 2 Juni mendatang, wasit utama dan dua hakim garis akan mendapatkan bantuan pengamat garis gawang yang mengadopsi teknologi dari Hawk Eye.Apabila, Hawk Eye versi sepakbola ini berhasil, maka kemungkinan besar teknologi tersebut akan digunakan di seluruh pertandingan resmi di bawah naungan FIFA, seperti yang dituliskan oleh Ubergizmo.com. Namun, apakah dengan ditambahkannya teknologi seperti ini juga dapat membantu carut marut persepakbolaan Indonesia di masa mendatang?

1. HAWK EYEHawk eye adalah sebuah teknologi garis gawang yg hampir sama dengan yg digunakan di tenis. Berbeda dengan Goal Ref, Hawk eye menggunakan pencitraan visual untuk melihat apak bola sudah melewati garis atau tidak. Teknologi ini sangat memberi kenyamanaan bagi pemirsa di layar kaca karena dapat secara langsung menyaksikan momen kontroversi di televisi. Sistem kerja Hawk Eye ditunjang oleh enam kamera yang terletak didalam gawang. Namun sistem ini memiliki resiko ketidakakuratan sebesar 3,6 milimeter dari jarak sebenarnya. Sistem ini juga dikritik karena tidak bisa mendeteksi apabila bola tertutup oleh pemain atau penjaga gawang.

2. GOAL REFSistem kerja goal ref adalah dengan memasukkan micro chip khusus pada bola yg nanti nya akan terdeteksi oleh sensor-sensor yg telah di letakkan di tiang gawang. Bila bola telah melewati garis gawang maka sensor alat sensor akan bekerja. Kemudian akan mengirim kan sinyal ke jam tangan wasit, apakah bola tersebut sudah melewati garis gawang atau belum.Tetapi sistem ini dikritik karena soal pengaruh teknologi tersebut terhadap kualitas bola. Sistem ini pun dinilai rentan rusak terutama teknologi di dalam bola.
FIFA akhirnya menyetujui penggunaan teknologi garis gawang. Meski di tentang UEFA, FIFA tetap yakin dengan keputusannya, karena penggunaan teknologi garis gawang ini amat sangat membantu pengadil di lapangan, apakah bola telah melewati garis gawang atau belum.GoalRef dan Hawk Eye adalah, dua pionir teknologi garis gawang yang paling siap dipakai saat ini. GoalRef merupakan produk teknologi buatan Denmark dan Jerman. Adalah wasit FIFA asal Denmark, Peter Mikelsen yang jadi pionir penemuan teknologi GoalRef.Sedangkan Hawk Eye adalah sebuah teknologi yg yg di gagas oleh perusahaan asal inggris. Teknologi ini hampir sama dengan yg digunakan di tenis.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: